Yogyakarta Darurat Sampah, Danais Bisa Jadi Solusi

Kondisi sampah di Kota Yogyakarta pasca lima hari penutupan TPST Piyungan pada Kamis (28/3). Forpi Kota Yogyakarta mendesak penggunaan Danais dalam penanganan sampah yang bisa mengancam industri pariwisata. (Forpi Kota Yogyakarta/Baharuddin Kamba/ar)

Arif Koes Hernawan | 28-03-2019 22:12

Kondisi sampah di Kota Yogyakarta pasca lima hari penutupan TPST Piyungan pada Kamis (28/3). Forpi Kota Yogyakarta mendesak penggunaan Danais dalam penanganan sampah yang bisa mengancam industri pariwisata. (Forpi Kota Yogyakarta/Baharuddin Kamba/ar)

Yogyakarta, Gatra.com – Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan, pusat pembuangan 600 ton sampah per hari untuk Kota Yogyakarta dan dua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, telah ditutup warga secara sepihak selama lima hari.

Akibatnya, sampah tak tertangani. Pariwisata dan citra istimewa Yogyakarta pun terancam. Danais diusulkan jadi stimulus untuk menumbuhkan budaya pemilahan dan daur ulang sampah oleh warga.

Hingga Kamis (28/3), sejumlah tempat pembuangan sampah di Kota Yogyakarta dipenuhi sampah yang belum terangkut dan menimbulkan bau.

Ketua Perkumpulan Hotel dan Restauran Indonesia DIY Istijab Danunagoro memastikan masalah sampah akan berdampak pada citra pariwisata Yogyakarta. “Sampah menghadirkan citra negatif bahwa DIY kotor dan kota tidak higienis,” kata dia.

Menurutnya, penumpukan sampah hingga menimbulkan bau tidak sedap berdampak buruk pada tamu-tamu hotel dan restoran,. Kondisi ini membuat wisatawan bisa memperpendek lama tinggal, bahkan tidak mau kembali ke DI Yogyakarta

“PHRI berharap agar Pemda DI Yogyakarta mencarikan TPST yang baru yang tidak ada penolakan warga,” kata dia.

Ketua Tim Persoalan Sampah Lembaga Ombudsman Daerah DIY Fajar Wahyu Kurniawan mengatakan, masalah sampah sebenarnya persoalan klasik yang selama ini terabaikan.

“Usia produktif TPST Piyungan sebenarnya hanya sampai tahun 2020. Persoalan TPST Piyungan harus sesegera mungkin diatasi sebelum menimbulkan dampak lebih besar lagi,” kata Fajar saat dihubungi Gatra.com.

LOD DIY mencatat masalah sampah di DIY sudah diatur dalam Perda 03 Tahun 2013 dan diturunkan dalam Peraturan Gubernur 21 Tahun 2014, dan semua kabupaten dan kota juga memiliki aturan soal sampah.

Hanya saja, selama ini masyarakat punya cara pandang hanya membuang sampah. Mereka belum memilih dan memilah sampah sejak awal sehingga akhirnya semua sampah dibuang ke depo dan diteruskan TPST. Akibatnya semua jenis sampah masuk ke TPST Piyungan.

“Ada 60-65 persen sampah yang masuk ke TPST adalah sampah organik dan sebenarnya bisa diolah. TPST dibangun sejak 1992 sehingga cukup waktu untuk dievaluasi. Luasnya 12,5 hektar dan kapasitasnya 2,5 juta meter kubik. Tahun 2020 sudah overload. Sehingga tahun ini harus ada penanganan yang komprehensif,” tambahnya.

Anggata Komisi C DPRD DIY Huda Tri Yudian menilai, masalah utama TPST Piyungan adalah tidak adanya proses pemusnahan sampah.

“Sampah dari tiga wilayah sebesar 600 ton truk per hari hanya ditumpuk dan diurug dengan tanah, tanpa ada upaya pemusnahan,” ujarnya.

Tri mendesak pemda DIY melibatkan pihak ketiga dalam pengelolaan sampah ini. TPST juga bisa membangun pembangkit listrik tenaga sampah atau berbasis hidrotermal.

Koordinator Forum Pemantau Indepeden Kota Yogyakarta Baharudin Kamba menyesalkan lambatnya penanganan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY.

“Tidak hanya tumpukan sampah yang menggunung tetapi bahkan ada tumpukan sampah di dekat lembaga pendidikan seperti di SDN Demangan, Gondokusuman,” kata dia.

Namun ia mengakui bahwa persoalan sampah ini tidak mudah, meski secara regulasi sudah ada peraturan daerah tentang persampahan.

Untuk itu, Kamba mendesak penggunaan dana keistimewaan (danais) untuk menangani sampah. Selama ini, dana tersebut dialokasikan untuk bidang terkait status keistimewaan DIY, terutama di bidang kebudayaan.

“Mengatasi darurat sampah, Forpi mendesak pemda untuk menggunakan danais untuk penanganan sampah berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, danais ini bisa difokuskan untuk penyediaan sarana dan prasarana sampah terutama dengan konsep daur ulang. Danais juga bisa menjadi stimulus untuk memperbanyak bank-bank sampah di tingkat RW melalui pemberian mesin olah sampah sederhana yang bisa jadi solusi jangka panjang.

Reporter : Kukuh Setyono
Editor : Arif Koes

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *