Buletin LOD DIY ed.2 2010

Suatu sore datang Pak Surono (nama disamarkan) datang ke rumah. Dengan berbinar-binar gembira ia menunjukkan kepada kami selembar KTP milik istrinya. “KTP-nya sudah jadi, BU”. Barulah kami ingat, beberapa bulan yang lalu saya memfasilitasi istri Pak Surono itu untuk memperoleh KTP. Waktu itu saya meminta bantuan kepada Lembaga Ombudsman Daerah (LOD). Tapi siapa sangka, bahwa perjalanan memperoleh selembar KTP di negeri ini sungguh berliku dan memakan waktu cukup lama.

Cerita berawal dari datangnya sepasang suami istri di dusun kami kira-kira 10 tahun yang lalu. Meraka datang dari Lampung. Sebetulnya sang suami, Pak Surono berdarah asli Sleman. Ia lahir dari sepasang suami istri penduduk dusu T kelurahan S, Kecamatan Ngaglik. Surono kecil dibawa ibunyam erantau ke sebuah desa di Lampung. Dia tumbuh dan besar hingga akhirnya menikah di sana. Tetapi ketika “pulang” kampung di Sleman, ia dan istrinya tak punya identitas apapun. Jangankan Buku Nikah, KTP pun mereka tidak punya. Mereka tinggal berpindah-pindah “mengindung” dari rumah ke rumah. Si istri yang asli Lampung sebenarnya mempunyai KTP namun telah habis masa berlakunya. Kehadiran mereka yang datang “tiba-tiba” dengan tanpa identitas itu mengundang berbagai persoalan sosial yang kemudian hari dihadapi pasangan suami istri ini. Stigma dan prasagka sosial dilabelkan pada mereka, misalnya pasangan liar, pelarian, dsb. Para perangkat di dusun kami, mulai RT hingga kepala Dukuhnya tidak mengambil tindakan apa-apa. Akibat dari tidak dimilikinya identitas ini ¬†adalah, pasutri ini tidak/sulit mendapatkan bantuan berupa Raskin, BLT, jamkesos dll, program pemberdayaan pemerintah untuk warga miskin.

Selengkapnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *