Buletin LOS DIY Edisi Juli-September 2014

Yogya “Makin Istimewa”

Yogyakarta sekarang berubah wajah, demikian komentar yang dilontarkan banyak pihak terkait kondisi Yogyakarta saat ini. Bagaimana tidak, saat ini banyak bermunculan bangunan hotel, motel, mall, bahkan apartemen. Tidak berlebihan jika ada yang berkata,”Yogyakarta telah menjadi kota metropolitan”. Bukan tanpa alasan jika Yogyakarta mengalami evolusi seperti sekarang ini, karena Yogyakarta memang memiliki sejumlah predikat, yaitu: kota budaya, kota pelajar, kota gudeg, kota batik, dan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, selain Bali.

Tidak sedikit kalangan yang menyambut gembira dengan akselarasi pertumbuhan bisnis penginapan di Yogyakarta, namun banyak juga pihak yang mengkhawatirkan dengan kondisi Yogyakarta. Muncul keprihatinan bahwa maraknya pembangunan hotel dan bangunan penginapan menunjukkan bahwa begitu mudahnya perizinan yang dikeluarkan dinas terkait tanpa memperimbangkan banyak hal, terutama dampak sosial dan lingkungan. Dampak sosial yang mencolok adalah kesenjangan hubungan kekeluargaan antara hotel dan penginapan dengan masyarakat sekitar. Tanggung jawab sosial pelaku usaha jasa penginapan tersebut sampai saat ini masih diragukan. Tidak berhenti di situ saja, saat ini banyak keluhan yang terlontar terkait matinya sumber mata air sumur akibat tersedot kebutuhan hotel.

Dari sisi bisnis, dampak negatif maraknya pembangunan hotel dan sejenisnya adalah komersialisasi tanah. Kita layak bertanya,”Mengapa begitu mudah pemilik tanah menjual tanahnya? Adakah spekulan yang terus bergerilya demi memuluskan langkah pihak yang membutuhkan?”. Tidak mengherankan jika kondisi tersebut memicu harga tanah yang membumbung tinggi. Dalam waktu beberapa waktu belakangan ini, pertumbuhan harga tanah di Yogyakarta tidak kalah dengan Jakarta dan Bali. Yogyakarta memang “istimewa” dengan berbagai karakteristiknya. Fenomena yang terungkap di atas, menjadikan Yogyakarta “makin istimewa”, komentar yang bernada miring karena Yogyakarta tidak lagi ramah seperti dulu, Yogyakarta tidak lagi nyaman seperti dulu, jalan-jalan di kota Yogyakarta makin macet, Yogyakarta saat ini makin semrawut, makin banyak polusi.

Keprihatinan terhadap Yogyakarta, mendorong LOS DIY untuk melakukan langkah aksi dengan menggelar seminar tentang “Hak Warga atas Tanah, Menggugat Komersialisasi Tanah” bekerjasama dengan Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Rabu, 24 September 2014 dengan mengundang narasumber di bidangnya, yaitu: Dr. Agus Pandoman SH. M.Kn., Nukman Fidausie, S. Ant., Samsudin Nurseha, SH., dan Ir. Sugeng Purwanto. MMA.

Seminar tersebut diadakan untuk memperoleh kesamaan persepsi dalam upaya pencegahan komersialisasi tanah di Yogyakarta dan mencegah munculnya predikat istimewa baru bagi Yogyakarta, istimewa dalam pandangan negatif. Pembangunan dalam bentuk apapun sangat kita apresisasi sepanjang membawa manfaat yang luas bagi masyarakat, namun pembangunan yang membawa efek ganda, mestinya harus kita hindari. Semoga Yogyakarta “selalu istimewa”.

Selengkapnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *