Dalam Kurun Waktu 8 Bulan, LO DIY Terima 5 Aduan Persoalan Sampah

Dalam Kurun Waktu 8 Bulan, LO DIY Terima 5 Aduan Persoalan Sampah TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri

Rabu, 12 September 2018 12:38

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Ketua LO DIY, Suryawan Raharjo menyampaikan, dalam kurun waktu delapan bulan, Lembaga Ombudsman (LO) DIY telah menerima lima kasus pengaduan sampah.

Suryawan melanjutkan, persoalan sampah ini sudah menjadi kajian yang endemik, hal ini karena tingkat berat permasalahan terletak pada tata kelola yang masih secara klasik.

“Masyarakat kami sudah menyesuaikan dengan pola tapi penyesuaian masih perlu diperbaiki. Jadi beratnya pada kontinuitas,” kata Suryawan pada Rabu (12/9/2018).

Ditambahkannya, berat atau ringan persoalan sampah ini dilihat dari kontinuitasnya, ketika kasus hampir sama muncul kembali, maka kasusnya tergolong endemik.

“Kalau kita bisa pilah itu pertama mengenai letak, posisi tempat sampah dari warga yang kemudian menganggu lingkungan karena preferensi pengambilan itu menjadi tidak oeriodik tidak sesuai dengan jadwal,” paparnya.

Permasalahan yang kedua yakni pada perilaku tata kelola sampah di lokasi, kemudian permasalahan selanjutnya pada tempat pembuangan air.

Ia menilai, tempat pembuangan air ini yang menjadi permasalahan, karena tempat pembuangan air TPST Piyungan untuk wilayah Yogyakarta, Sleman, Bantul hampir tidak ada pengelolaaan secara mekanis.

“Jadi masih bersifat tradisional, datang kemudian timbun,” tuturnya di sela-sela acara Gelar Kasus Masa Depan Pengelolaaan Sampah DIY yang dihelat di Universitas Janabadra.

Ia menyebutkan, setiap hati ada sekitar 200 ton sampah yang masuk dari Yogyakarta, Sleman dan Bantul.

Sebagai lembaga pengawas layanan publik, LO DIY melihat persoalan sampah ini menjadi permasalahan yang menganggu masyarakat ini pihaknya melihat fasilitas TPST Piyungan itu tidak sesuai yang diharapkan.

“Maka kami bersama dengan kalangan akademisi dan OPD mendiskusiakan hal ini untuk mencari solusi. Harapan kami ada rekomendasi yang nanti kami sampaikan kepada OPD terkait supaya bisa menjadi bahan membangun kebijakan pengelolaan sampah,” ucapnya.

Menurutnya, solusi dari persoalan sampah ini penyelesaiannya masih dilakukan secara konvensional, yakni dengan melakukan pengangkatan sampah secara periodik, baik dari lingkungan warga dari pasar atau kawasan lain yang memang berpotensi menimbulkan sampah supaya tidak menimbun.

“Kedua ada edukasi ditingkat masyarakat supaya bisa mengelola sampah dengan baik. Sehingga sampah tidak menumpuk pada tempat sampah. Pemahaman kita sekarang itu sampah dibuang, tapi belum pada tahap pemahaman sampah itu perlu dikelola di tata,” kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *