Jogja Nganti Macet

Oleh: Dwi Priyono, S.

Nganti macet yang berarti sampai dibuat macet bukan merupakan isapan jempol akan terjadi di Yogyakarta. Musim liburan telah tiba, berarti tiba pula musim macet di Yogyakarta. Yogyakarta sebagai kota wisata, memiliki persoalan kemacetan yang belum terselesaikan hingga hari ini. Hampir di setiap ruas jalan utama kemacetan terjadi disetiap waktu dari pagi hingga malam hari. Kemacetan kian menggila ketika memasuki masa libur dimana kendaraan yang memadati ruas kota bukan hanya milik penduduk kota namun sebagian besar adalah para wisman. Bukan lalu menyalahkan wisman namun kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan warga masyarakat, bahwa transportasi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sebagai daerah wisata tentu sudah pasti dampak kemacetan akan timbul apabila tidak dilakukan antisipasi dan upaya penanggulangannya.

Slogan “Berhati Nyaman” yang hingga kini masih melekat pada kota Yogyakarta perlu dipertahankan dengan upaya perbaikan khususnya dibidang transportasi. Kebutuhan mendesak dibidang transportasi tentu saja bukan hanya terkait pembangunan infrastuktur namun juga pada regulasi pendukungnya. Selain itu etika berkendara juga harus menjadi perhatian tersendiri, mengingat salah satu penyebab kemacetan adalah tidak taatnya pengendara pada norma-norma yang ada. Sikap saling kebut dan parkir sembarangan menjadi pemandangan yang hampir setiap hari kita temukan.

Sebagai daerah istimewa sebagaimana diatur didalam Undang–Undang Nomor 13 Tahun 2013 tenang Keistimewaan DIY (UUK) seharusnya malu karena adanya kemacetan dan kesemrawutan dijalan. Yogyakarta harusnya lebih baik dibanding daerah lain karena mempunyai keunikan, kekhasan dan spesifikasi kebudayaan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup sehingga kemacetan bisa dihindarkan. Hal tersebut didasarkan falsafah Yogyakarta yaitu Hamemayu Hayuning Bawono yang berarti mempercantik bumi yang sudah cantik. Sehingga atas dasar tersebut setiap pembangunan haruslah didasarkan pada nilai filosofi tersebut yang pada prinsipnya sangat peduli lingkungan hidup untuk menuju arah pembangunan yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi kemudian nilai falsafah tersebut diterjemahkan didalam UUK yang mana keistimewaan yang dimaksud bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat melalui kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan pengembangan kemampuan masyarakat. Disisi lain pengguna jalan juga seharusnya memiliki tenggang rasa, ‘tepo sliro’ dalam berkendara.

Atas dasar nilai–nilai tersebut maka sudah seharusnya hak masyarakat akan transportasi yang nyaman, aman, tepat waktu dan terjangkau menjadi prioritas dalam pembangunan. Apabila masalah transportasi tidak mendapat perhatian serius maka dipastikan sepuluh tahun lagi Yogyakarta akan mengalami macet parah yang itu akan berdampak pada matinya ekonomi masyarakat.

Apabila dicermati sesungguhnya kemacetan disebabkan karena kurangnya pemerintah memanfaatkan peluang. Para pelancong yang datang ke Yogyakarta tentunya membawa dana yang akan dibelanjakan produk-produk UMKM. Berkah tersebut tentunya perlu ditata agar manfaat benar-benar diterima oleh warga Yogyakarta.

Salah upaya menata transportasi guna mendapat manfaat lebih adalah dengan pembangunan sarana parkir yang representatif. Lahan parkir memiliki peran penting guna mengurai kemacetan. Hal ini didasarkan pada banyaknya kendaraan yang memang sudah tidak mampu lagi ditampung di lahan-lahan parkir yang ada dan kemudian di parkirkan dijalan-jalan. Selain itu lahan parkir juga akan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat apabila disediakan pula los-los bagi pedagang ataupun pengrajin.

Dengan demikian maka lahan parkir haruslah dipadukan dengan penatan loslos pedagang. Lahan parkir tersebut juga akan lebih baik jika berada di pinggir kota sehingga kenyamanan pelancong yang menikmati suasana kota khususnya kraton tidak terganggu oleh lalu lintas. Guna memperkuat hal ini maka penegak hokum perlu tegas bagi pelanggar lalu lintas, khususnya parkir liar dan pengguna yang tidak tertib akan rambu-rambu. Dengan upaya tersebut maka kenyamanan akan tetap lestari bersamaan dengan slogan Kota Berhati Nyaman, dan terlebih Nganti Macet bisa berganti dengan Anti Macet. Semoga.

Download Artikel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *