Kota Yogyakarta Sejumlah Pedagang Berlapak depan Pasar Beringharjo Yogyakarta Mengadu ke LO DIY

Rabu, 18 April 2018 21:28

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sejumlah pedagang yang berlapak di depan Pasar Beringharjo Yogyakarta (sisi barat) mengadu ke Lembaga Ombudsman (LO) DIY, Rabu (18/4/18).

Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Lapak (Papela) keberatan dengan kebijakan baru yakni membagi jam berdagang menjadi dua sesi.

Sesi pertama dimulai pukul 05.00 hingga pukul 17.00 WIB dan sesi ke dua dimulai pukul 17.00 dan berakhir pukul 05.00 WIB.

Kebijakan ini menurut Roni Tardianto yang mewakili ibunya ke LO DIY kurang transparan dan belum tersosialisasi dengan baik.

Saat pedagang dihadapkan pada pilihan untuk berdagang sesi satu atau sesi dua, menurut Roni, pedagang tiba tiba langsung diberi surat pernyataan bermaterai oleh pengurus Papela.

Merasa belum mendapatkan penjelasan dan sosialisasi yang diinginkan, ada beberapa pedagang termasuk ibunya yang menolak menandatangani surat pernyataan bermaterai tersebut.

“Kami sudah coba meminta penjelasan kepada pengurus dan dinas tapi jawabannya kami diminta mengikuti saja kebijakan yang baru. Untuk itu kami bersepakat menyampaikan keluhan dan keberatan kami pada Ombudsman DIY atas apa yang kami rasakan. Kami ingin transparan itu saja,” ujar Roni.

Lanjut Roni, para pedagang yang ikut mengadu ke Ombudsman hari ini adalah mereka yang sepakat untuk kembali ke kebijakan lama yakni berjualan tanpa ada pembagian sesi.

Pasalnya mereka selama ini sudah bersepakat secara tidak tertulis membagi waktu antara pedagang yang berjualan dari pagi sampai sore dan sore sampai malam.

“Kami tak masalah misalnya harus membayar retribusi untuk shift dua. Sementara ini kami akan ikuti kebijakan baru sambil menunggu respon dari dinas pasar soal keberatan kami,” ujar Roni.

Roni menambahkan, persoalan lain yang dikhawatirkan terjadi adalah adanya pedagang baru yang tiba tiba menempati lapak pedagang anggota Papela tanpa sosialisasi terlebih dahulu.

Sebab hal ini pernah terjadi sebelum kebijakan baru pembagian dua sesi berdagang ini. Ada dua pedagang baru tiba tiba menempati lapak Papela.

Pedagang lain yang enggan disebut namanya mengamini apa yang diutarakan Roni.

Selama ini jam ramai pembeli antara jam 3 hingga menjelang jam 6 sore.

Bila mereka yang mengambil sesi satu harus tutup jam 5 maka mereka akan kehilangan konsumen.

“Hari Senin pada masih ramai pembeli disuruh tutup, sampai pembeli pada tanya dan bingung kenapa disuruh tutup. Kami juga akhirnya menutup lapak karena mengikuti kebijakan baru walaupun para pembeli sedikit bingung dengan kebijakan ini,” ujar perempuan yang sudah membantu berjualan ibunya berjualan di lapak Papela ini.

Di kesempatan yang sama, Muhammad Nugroho, komisioner LO DIY yang menerima kehadiran para pedagang Papela Beringharjo menuturkan, pihaknya memiliki tugas mengawasi pelayanan publik yang diselenggarakan pemerintah daerah dan mengawasi penegakan etika oleh dunia usaha.

Atas aduan para pedagang Papela tersebut, Nugroho memberikan masukan agar para pedagang yang merasa keberatan dengan kebijakan baru untuk membuat surat yang berisi pernyataan keberatan disertai alasan keberatan untuk ditujukan pada dinas terkait dan Walikota Yogyakarta.

“Kami sudah terima aduan mereka para pedagang Papela untuk kemudian kami sarankan melakukan komunikasi dengan dinas terkait dalam hal ini dinas perindustrian dan perdagangan Kota Yogyakarta. Setelah mereka mengirimkan surat kami akan menunggu respon dan informasi dari yang menyatakan keberatan, kemudian tugas kami akan meminta informasi pada pihak terkait dalam persoalan ini,” ujar Nugroho.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Maryustion Tonang menanggapi aduan dari sebagian pedagang anggota Papela ini berujar, kebijakan baru yang membagi waktu berdagang menjadi dua sesi berlandaskan asa berbagi dan pemerataan.

Pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada para anggota Papela dan berharap kebijakan baru ini turut didukung.

Salah satu caranya dengan meminta para pedagang juga memberikan informasi pada para pembeli yang didominasi wisatawan bahwa ada kebijakan baru tersebut.

“Kalau sudah bagian jam berjualan hampir habis ada baiknya bersiap dan bisa diberi informasi pada pembeli bahwa harus berganti shift. Ini kan pola berbagi supaya tidak berjejal. Lapaknya sudah kita minta juga menempel papan siang atau malam supaya menjadi alat kontrol,” ujar Maryustion saat dihubungi Tribun Jogja, Rabu (18/4/18) petang.

Lanjut Maryustion, pihaknya sudah melakukan berbagai langkah untuk menata para pedagang di sisi barat pasar Beringharjo ini agar nampak rapi dan tertata.

Di antaranya sudah melakukan pembinaan soal harga yang wajar serta aksesori seperti tenda agar seragam dan memberikan kesan indah.

“Bagi dinas, Papela ini merupakan mitra. Adanya kebijakan baru ini mari kita dukung. Tidak perlu khawatir ada pedagang baru yang mengambil lapak karena ada yang tercacat saat ini sekitar 100 lebih itu sudah kita kunci. Jadi mari dukung kebijakan ini untuk program wisata malam yang sudah mulai direspon positif oleh wisatawan,” ujar Maryustion.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *