Mediasi Bong Suwung Mentok

Tetap bergeming dengan keinginan masing-masing

JOGJA – Mediasi antara pelaku ekonomi dan warga Bong Suwung dengan PT Kereta Api (KA) Daerah Operasional (Daop) VI mentok. Mediasi yang diinisiatifi Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) DIJ di Kantor LOD, kemarin 914/5), berakhir tanpa ada kesepakatan. Kedua pihak bersikukuh dengan keinginan masing-masing.

“Kami tidak bersedia harus pergi tanpa ada solusi yang ditawarkan dari pihak PT PA. Kalau mereka tetap memaksakan kehendak, jangan salahkan kami jika ada aksi tandingan menolak penggusuran,” tandas Gunarto, wakil pelaku usaha dan warga sekitar usai mediasi, kemarin (14/5).

Gunarto atau lebih sering disapa Gunjek, meminta PT KA dan pemerintah setempat mencarikan solusi. Ia beralasan sikap PT KA telah menyalahi aturan. PT KA, kata dia, langsung memberikan surat peringatan pembongkaran sendiri tanpa pernah melakukan sosialisasi. “Kami tidak pernah diajak berdiskusi tentang rencana ini,” imbuh Gunjek.

Tak berbeda dengan Gunjek, Yayuk Ndika yang menjadi juru bicara pelaku ekonomi di Bong Suwung menilai PT KA arogan. Ini tampak dari sikap mereka menutup “pintu tikus” yang menjadi akses utama keluar masuk ke kawasan ini.

Penutupan itu, keluh Yayuk, membuat dia bersama seratus orang yang mendiami kawasan itu kesulitan melakukan aktivitas. “Kami minta pihak PT KA, polsek, dan Kecamatan Gedongtengen membuka pintu selatan di Kampung Jlagran dan utara di Badran. Pintu itu tak hanya menjadi jalan bagi kami. Tapi juga warga sekitar yang mau salat ke masjid,” terang perempuan yang mengaku telah mendiami tempat ini sejak tahun 60-an.

Di lain pihak Manajer Hukum PT KA Daop VI Abdul Hamim juga menolak jika harus membuka pintu tikus maupun membiarkan warga Bong Suwung tetap beraktivitas. Hamim beralasan, sesuai UU Perkeretaapian No. 23 tahun 2007 pasal 178, tidak boleh ada bangunan atau benda lain yang menghalangi pandangan bebas masinis.

“Sudah jelas, kami pun hanya melaksanakan undang-undang. Karena jika terjadi apa pun di Bong Suwung, yang pertama kali dianggap bersalah adalah kami,” keluh Hamim yang mewakili kepala Daop VI.

Mediasi ini pun akhirnya tak menemui kata sepakat. Harapan warga ada penyelesaian mengenai  masalah penggusuran tempat mencari makan mereka, tak mendapat tanggapan sesuai keinginan. Baik dari KA maupun muspika setempat.

“Semua pihak yang memiliki kewenangan saling lempar. Tidak ada yang memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan kami,” tegas Gunjek.

Kepala Humas PR KA Daop V Eko Budiyanto menegaskan, pembukaan kembali akses jalan dan membiarkan masyarakat beraktivitas di Bong Suwung tak bisa mereka akomodasi. Eko meminta semua warga yang beraktivitas di Bong Suwung dapat menerima dan sadar membongkar lapak-lapak mereka.

Tak ada titik temu pada mediasi ini tampaknya tak mematahkan ada LOD. Bagus Sarwono, wakil ketua LOD akan mempertemukan kembali kedua belah pihak dengan lebih memfokuskan pada penyelesaian Bong Suwung.

Mentoknya mediasi ini sempat membuat warga yang hadir marah. Sambil keluar ruangan, kaum ibu yang membawa anak dan suami mereka mengecam tindakan PT KA. Mereka pun berhamburan keluar kantor LOD tanpa bersalaman seperti saat datang. (eri)

Sumber: Radar Jogja, Sabtu 15 Mei 2010 Halaman 13 Kolom 4

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *