Minta SPP Turun Puluhan Siswa SMP Mogok Sekolah

BANTUL, KOMPAS – Puluhan siswa SMPN 3 Kasihan, Bantul, sejak Selasa (11/10) lalu, mogok sekolah. Mereka mendesak pengurangan buaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang pada tahun ajaran ini malah lebih mahal dari sebelumnya. Padahal, pemerintah telah mensubsidi bantuan operasional sekolah (BOS).

Jumlah siswa yang mogok sekolah terbanyak hari Selasa lalu, yaitu 54 orang, mencakup siswa Kelas II dan III. Jumlah yang mogok hari Rabu berkurang jadi 47 orang; tinggal 10 siswa yang masih mogok sekolah, Kamis (13/10).

Mogok sekolah merupakan reaksi atas pengumuman pihak sekolah hari Minggu lalu, bahwa biaya SPP kini menjadi Rp. 27.500 per bulan, lebih tinggi dari tahun ajaran sebelumnya, yaitu Rp. 20.000 per bulan. Peni dan Wintolo, siswa Kelas III yang ikut mogok sekolah dan baru masuk kembali hari Kamis kemarin, mengaku tetap meminta pihak sekolah menurunkan biaya SPP. “Dulu pihak sekolah mengatakan bahwa adanya BOS akan menurunkan biaya SPP menjadi sekitar Rp 8.000 hingga Rp. 10.000 per bulan. Tetapi, SPP sekarang ini kenapa tambah mahal,” tutur Wintolo.

Kepala SMPN 3 Kasihan, Sunarti SPd, menegaskan tak dapat mengubah biaya SPP yang sudah tertera dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS), yang disahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantul. Meski sekolah telah menerima BOS, dananya antara lain dialokasikan untuk beasiswa penuh bagi 86 siswa miskin di sekolah ini. “Kami tidak mungkin menurunkan biaya SPP, karena telah sesuai APBS,” tuturnya.

Di Yogyakarta, Tim Kerja Antikorupsi Muhammadiyah, hingga 11 Oktober telah menerima 20 pengaduan tentang penyelewengan dana BOS, akibat prosedur yang tidak transparan.

Aris Jamali Muis, Regional Officer Tim Kerja Antikorupsi Muhammadiyah mengatakan, banyak orangtua yang tidak mengetahui penggunaan dana BOS karena kurang sosialisasi. “Orangtua siswa bahkan ada yang beranggapan dana BOS Rp. 27.500 itu untuk SPP, padahal tidak. Sehingga mereka menganggap pelanggaran ketika dimintai uang SPP,” paparnya. (ITA/NIT)

Sumber: KOMPAS, Jumat 14 Oktober 2005

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *