Pendidikan – Dosen FT UJB Teliti Masa Depan Pengelolaan Sampah di DIY

LO DIY bersama UJB menyelenggarakan ‘Gelar Kasus Masa Depan Pengelolaaan Sampah di DIY’ pada Rabu (12/9/2018).

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Persoalan sampah semakin pelik saat alat berat yang ditempatkan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, mengalami kerusakan.

TPST Piyungan sudah dalam kondisi penuh, tetapi dipaksa untuk menampung sampah dari Yogyakarta, Sleman dan Bantul.

Melihat hal tersebut, Lembaga Ombudsman (LO) DIY bersama Universitas Janabadra (UJB) menyelenggarakan ‘Gelar Kasus Masa Depan Pengelolaaan Sampah di DIY’ pada Rabu (12/9/2018).

Rektor UJB, Edi Suyono menyambut baik acara Gelar Kasus yang dihelat di Ruang Multi Purpose UJB.

“UJB mempunyai interest bidang pengelolaan sampah khususnya lingkungan termasuk juga nanti arahnya diolah menjadi energi yang diperbarukan,” kata Edi.

Sementara itu, Mochamad Syamsiro selaku Pembicara Utama sekaligus peneliti ‘Masa Depan Pengelolaaan Sampah di DIY’, menuturkan, Yogyakarta sampah yang diproduksi mencapai sekitar 500 ton per hari dan sebagian besar masih ditimbun di TPA sampah.

“Sementara ketersediaan lahan TPST di Piyungan, Bantul sangat terbatas dan diperkirakan hanya sanggup menampung hingga beberapa tahun ke depan,”ujar Syamsiro.

Menurut dia, agar sampah bisa tertangani dengan baik, ada beberapa metode di dalam pengelolaan sampah kota, diantaranya yang paling umum adalah menggunakan sistem terbuka atau open dumping dan sanitary landfill.

“Namun metode tersebut tetap membutuhkan lahan yang luas. Sementara, kondisi yang ada saat ini, TPST Piyungan sudah penuh dan akan sangat sulit untuk mencari tempat baru untuk dijadikan TPST,” lanjut dia.

Sehingga perlu ada solusi yang komprehensif untuk penanganan sampah, Syamsiro melanjutkan, salah satu caranya dengan mengubah sampah yang ada menjadi sumber energi atau listrik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan.

“Pengolahan sampah menjadi energi sudah banyak dilakukan oleh negara-negara maju, seperti di Jepang, Tiongkok dan Taiwan. Mereka mengolah sampahnya dengan sangat baik, bahkan tempat pengolahannya sangat bersih tidak seperti umumnya kota-kota di Indonesia yang sangat kotor karena sampah berceceran dimana-mana,” terangnya

Lebih lanjut Dosen Fakultas Teknik UKB ini menjelaskan, ada banyak model teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah sampah menjadi energi.

Diantaranya yang umum diterapkan di banyak negara adalah apa yang disebut dengan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Dengan sistem ini, sampah bisa dikurangi hingga 90 persen karena hanya abu saja yang tersisa.

“Sehingga ada dua keuntungan yang bisa diperoleh yaitu musnahnya sampah dan listrik yang dihasilkannya. Pada beberapa PLTSa baru, digunakan sistem gasifikasi yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan,” paparnya.

Pengolahan sampah menjadi sumber energi atau listrik pada prinsipnya adalah menggunakan teknologi termal pada suhu tinggi.

Dengan penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah di Kota Yogyakarta, sehingga tidak akan ada lagi terjadi penumpukkan sampah akibat tidak berfungsinya TPST Piyungan.

“Di sisi lain juga ada nilai tambah energi berupa listrik maupun BBM yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini,” ucap dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *