Pengolahan Sampah Perlu Sentuhan Teknologi

Suryawan Raharjo (paling kanan) saat menyampaikan paparan. (Foto : Devid Permana)

Editor : Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Dalam 8 bulan terakhir, ada 5 pengaduan dari masyarakat yang diterima Lembaga Ombudsman (LO) DIY terkait masalah sampah. Antara lain aduan soal letak penampungan sampah yang mengganggu warga, tata kelola sampah dan proses pengolahan sampah di Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan yang masih tradisional (datang, timbun, kais).

Demikian disampaikan Ketua LO DIY Suryawan Raharjo disela acara Gelar Kasus bertema ‘Masa Depan Pengelolaan Sampah di DIY’ di Ruang Multi Purpose Universitas Janabadra (UJB), Jalan Tentara Rakyat Mataram Yogyakarta, Rabu (12/9/2018). Gelar kasus menghadirkan berbagai pihak seperi BLH, Pemda DIY, pengelola sampah Kartamantul, Dinas Sanitasi Air dan akademisi seperti UGM, UII dan UJB. Hadir dalam acara tersebut Rektor UJB Dr Ir Edy Sriyono dan Dekan Fakultas Teknik UJB Titiek Widyasari ST MT.

Dijelaskan Suryawan, jumlah sampah yang masuk ke TPST Piyungan mencapai 200 ton perhari dan masih dikelola secara tradisional. Jika sampah tersebut tidak tertangani dengan baik, akan melampaui daya tampung dan menimbulkan masalah sosial lain.

Menurutnya, sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomis, apabila dikelola secara baik dan dimanfaatkan. “Selain menyiapkan teknologi yang lebih baik untuk mengolah sampah di TPST, masyarakat perlu diedukasi untuk memilah dan memanfaatkan sampah, sebelum dibuang,” katanya.

Direktur Center for Waste Management & Bioenergy, Jurusan Teknik Mesin FT UJB Yogyakarta Dr Eng Mochamad Syamsiro mengatakan, ada banyak model teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah sampah menjadi energi. Di antaranya yang umum diterapkan dibanyak negara adalah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Dengan sistem ini, sampah akan bisa dikurangi hingga 90 persen karena hanya abu saja yang tersisa. “Sehingga ada dua keuntungan yang bisa diperoleh yaitu musnahnya sampah dan listrik yang dihasilkannya.” katanya.

Teknologi lainnya adalah teknologi pirolisis dan gasifikasi. Pirolisis merupakan teknologi pemanasan sampah kota tanpa menggunakan udara di dalam prosesnya. Jadi tidak terjadi pembakaran di dalamnya, hanya terjadi proses perengkahan rantai karbon untuk nantinya bisa dihasilkan bahan bakar cair maupun gas. “Sampah plastik dan karet ban bekas dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM) dengan teknologi ini,” kata Syamsiro.

Sedangkan tekonolgi Gasifikasi adalah proses pembakaran dengan udara terbatas sehingga menghasilkan bahan bakar gas yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik maupun kebutuhan lainnya. (Dev)

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *