Perjuangan Jemaah Abu Tours Menagih Janji ke Tanah Suci

Tugu Jogja
Jumat 23 Maret 2018 – 03:16

Noor (hijab Merah) dan Dwi (hijab pink) saat mengadu ke Kantor Ombudsman Swasta DIY beberapa waktu lalu. Foto : CIA

Raut wajah Noor Chasanah mendadak sedih. Mata wanita berhijab ini berkaca-kaca saat menceritakan perjuangannya menagih janji ke tanah suci pada Biro Umrah Abu Tours.
Noor adalah salah satu dari ratusan calon peserta umrah Abu Tours Cabang Yogyakarta yang belum diberangkatkan ke tanah suci. Ia mengetahui Biro Abu Tours pada April 2017. Saat itu Abu Tours tengah menjalankan promo paket murah umrah dengan biaya hanya Rp 16 juta per orang. Tergiur dengan harga murah dan janji manis marketing, Noor lantas memesan paket umrah untuk dirinya dan empat anggota keluarga lainnya.

“Saya dapat harga Promo Rp 16 juta per orang. Ditambah biaya asuransi, PPN, dan lain-lain. Total sekitar Rp 17 juta per orang. Saya langsung bayar lunas semuanya dan rencana diberangkatkan Februari 2018,” kata Noor di Kantor Ombudsman Daerah Istimewa Yogyakarta, Jalan Tentara Pelajar Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Karena merasa murah, Noor lantas mempromosikan paket umrah murah ini ke tetangganya, Dwi Yuniati. Dwi pun ikut membeli paket umrah Abu Tours untuk dua orang. Empat bulan kemudian, kasus penipuan yang dilakukan pemilik First Travel mencuat. Rasa cemas dan khawatir menimpa Noor. Ia takut hal serupa akan menimpa dirinya karena Biro Abu Tours turut menetapkan harga yang murah seperti First Travel.
Noor memutuskan membatalkan kepergian dan meminta uang kembali pada manajemen Abu Tours. Namun manajemen menolak dengan mempersulit prosedur. Pengembalian uang umrah bisa dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tiga bulan.

Manajemen juga meyakinkan keduanya akan tetap memberangkatkan. “Waktu itu dibilang bisa dikembalikan 50 persen dalam waktu tiga bulan. Lalu marketing meyakinkan Abu Tours tidak akan lepas tangan dan kolaps seperti First Travel. Kami juga langsung dikasih koper untuk keberangkatan,” jelas wanita yang tinggal di Godean, Sleman ini.

Hal ini membuat Noor dan Dwi luluh. Mereka yakin Abu Tours akan memberangkatkan mereka dan urung membatalkan kepergian. Setelah itu Abu Tours sempat meminta keduanya melakukan pemeriksaan kesehatan, suntik vaksin, dan membuat paspor.

Sementara Dwi Yuniati, tetangga Noor, mengatakan, ia dan Noor sempat ikut manasik haji pada bulan Januari 2018 yang diselenggarakan Abu Tours Cabang Yogyakarta. Usai manasik haji, komunikasi manajemen Abu Tours Yogyakarta dengan jemaah mulai tidak lancar.

Dwi mengaku tak ada pemberitahuan atau pengumuman persiapan keberangkatan. Padahal seharusnya sebulan sebelum keberangkatan jemaah akan mendapatkan kepastian visa dan perizinan lainnya. “Padahal saya sudah siap-siapin barang-barang dan masukin ke koper,” tutur Dwi.

Noor dan Dwi mencoba mendatangi Kantor Abu Tours di Jalan Magelang No 53 Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Di sana mereka mendapati operasional kantor memburuk, para pegawai banyak yang keluar dan hanya tersisa beberapa orang. Puncaknya tanggal 5 Februari 2018 kantor manajemen Abu Tours Cabang Yogyakarta berhenti beroperasi.

Kini Noor dan Dwi hanya bisa pasrah dan meminta bantuan Ombudsman menyelesaikan kasus mereka. “Saya minta uang kembali saja. Sulit sepertinya kalau bisa sampai diberangkatkan,” ucap Dwi.

Begitu juga dengan Noor. Ia tak masalah jika harus menunggu selama beberapa bulan asalkan uangnya kembali. Keduanya berharap Lembaga Ombudsman Swasta DIY dan Kemenag bisa membantu mereka mendapatkan kembali dana dari manajemen Abu Tours. (cia)

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *