Perusakan BWB di Jalan Pajeksan Ada Unsur Kelalaian Pemerintah

Jul 9 2015 | cahyo sj

Keadaan Bangunan BWB di Jalan Pajeksan Lokasi Hotel Amaris Malioboro Sebelum Dirobohkan (cahyo)

Jogja, (sorotjogja.com)- Perusakan benda cagar budaya ataupun warisan budaya sering kali melibatkan pemerintah. Di mana untuk beberapa kasus perusakan di Jogja juga melibatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Termasuk juga dalam kasus Hotel Amaris Maliobroro yang dinilai terdapat indikasi maladministrasi dari Pemkot Jogja dalam memberikan izin pembangunan hotel.

Dalam kasus ini Pemkot kurang hati-hati. Mereka tidak tahu kalau di situ ada benda warisan budaya,” ungkap Wakil Ketua Lembaga Ombudsman (LO) DIY, Muhammad Saleh Tjan, Rabu (8/7/2015).

Menurutnya ada beberapa kasus perusakan Benda Warisan Budaya (BWB) ataupun Benda Cagar Budaya (BCB) di wilayah Jogja dalam kurun waktu belakangan ini. Diantaranya adalah Gedung Pizza Hut di Jalan Sudirman, perubahan Gedung Mardi Utomo menjadi Yap Square, perusakan SMA 17 Jogja dan yang terakhir adalah perusakan Bangunan China Tjan Bian Tiong di Jalan Pajeksan nomor 16, Jogja.

Padahal di balik itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja sudah mengantongi data sebanyak 459 BWB ataupun BCB yang berada di sekitaran kota Jogja. “Perlakuan terhadap BWB ataupun BCB berdasarkan Undang-Undang (UU) nomor 11/2010 adalah sama, yaitu tidak boleh dirusak,” tegas Tjan.

Dalam kasus Hotel Amaris Malioboro, LO DIY menilai jika terdapat unsur kelalaian dari pihak Dinas Perizinan Kota Jogja dalam mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Mereka hanya melihat permohonan izin awal yang menyebutkan jika akan melakukan pembangunan hotel di Jalan Pajeksan nomor 10, Jogja.

Padahal, bangunan tersebut terdapat empat persil yang menjadi satu-kesatuan yaitu nomor 10, 12, 14 juga 16 dan pada nomor 16 yang hanya selebar 3 meter adalah bangunan Tjan Bian Tiong yang menjadi bangunan BWB. Kemudian pada saat bangunan sudah dirobohkan, pihak Pemkot juga tidak menindaklanjuti dengan sebuah temuan, karena izin awal yang mereka ketahui hanyalah bangunan di nomor 10.

“Pemkot berpendapat jika tidak bisa menghentikan pembangunan (Hotel Amaris Malioboro), karena izin sudah sesuai,” tambahnya.

Di sisi lain pihak pengembang hotel, Eko Bimantoro sudah berkomitmen untuk membangun kembali BWB yang rusak sesuai dengan rekomendasi yang sudah diberikan melalui SK Walikota Jogja, Haryadi Suyuti. Namun, LO DIY tetap menganggap jika ini merupakan preseden buruk bagi Pemkot Jogja dalam bidang pelestarian suatu maupun warisan budaya.

“Pelestarian ini dapat terwujud jika setiap komponen menyadari betapa pentingnya bangunan cagar budaya bagi Indonesia khususnya Jogja sehingga bisa menjadi daerah khusus yang mempunyai sejarah, bukan malah menjadi sejarah,” tandas Tjan.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *