Perusakan Cagar Budaya Pajegsan, Ombudsman Minta Ada Konsekuensi Hukum

Ilustrasi Kraton Jogja Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi

Ujang Hasanudin | Jum’at, 07/08/2015

Bisnis.com, JOGJA-Lembaga Ombudsman DIY melayangkan surat pemanggilan kepada Walikota Jogja Haryadi Suyuti. Pemanggilan tersebut untuk minta penjelasan adanya dugaan mal administrasi dalam kasus perusakan cagar budaya di Jalan Pajegsan, Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja.

“Surat segera kirim besok ,” kata Komisioner Ombudsman DIY Bidang Kerjasama Jaringan, Imam Santoso, saat ditemui di kantornya, Kamis (6/8/2015).

Imam mengatakan perusakan bangunan rumah kuno karya arsitektur Tionghoa, Tjan Bian Thiong untuk dibangun hotel Amaris terindikasi adanya mal administrasi jauh sebelum bangunan cagar budaya itu dihancurkan.

Meski Walikota Jogja sudah memberikan rekomendasi agar bangunan cagar budaya itu dibangun kembali, Imam menyatakan tidak semudah itu. “Harus ada konsekuensi hukumnya sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Harus ada tindakan nyata dari walikota,” ujar Imam

Selain minta klarifikasi dari walikota, Imam mengatakan lembaganya juga akan menyampaikan rekomendasi hasil investigasi dan kajian Ombudsman dalam kasus tersebut. Ia berharap kasus perusakan cagar budaya di Pajegsan menjadi momentum perlindungan dan pelestarian cagar budaya di DIY.

Bangunan Rumah Tjan Bian Thiong yang terletak di Nomor 16 Jalan Pajegsan termasuk salah satu cagar budaya yang sudah memiliki Surat Keputusan (SK) sesuai regulasi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya di Dewan Pertimbangan Pelestarian Cagar Budaya (DPWB). Rumah itu juga direkomendasikan menjadi benda warisan budaya.

Bahkan bangunan Tjan Bian Thiong ini juga sudah ditetapkan melalui SK Walikota Jogja Nomor.798/Kep/2009. Sebelumnya, Pakar Hukum Cagar Budaya dari Universitas Atmajaya Yogyakarta, Endang Sumiarni menyatakan, bangunan Tjan Bian Thiong harus dibangun kembali, dan menyerupai dengan bangunan aslinya.

Pemilik Hotel Amaris, Eko Bimantoro, sebelumnya menyatakan siap membangun kembali cagar budaya yang sudah dihancurkan, meski ia tidak merasa bersalah dalam kasus tersebut. Eko mengklaim tidak mengetahui ada cagar budaya di lokasi hotel yang akan dibangunnya itu.

Editor: Nina Atmasari

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *