Satu Sekolah Dilarang Terima Siswa

Tidak Memenuhi Persyaratan

GODEAN — Satu sekolah di Sleman, yakni SMP Ibnu Abbas di Godean, dilarang menerima siswa atau peserta didik baru pada tahun ajaran 2009 ini. Larangan dari Dinas Pendidikan ini dikeluarkan karena sekolah tersebut tidak memenuhi syarat yang memadai sebagaimana diminta dinas.

Kepala Dinas Pendidikan Sleman Suyamsih M.Pd kepada wartawan, Jumat kemarin, mengakui telah mengeluarkan larangan bagi sekolah tersebut untuk menerima siswa baru tahun ini.” Kami sebenarnya sudah cukup lama meminta pengelola segera memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan. Pengelola juga sudah berjanji untuk segera memenuhi syarat tersebut, tapi ternyata sampai sekarang menjelang penerimaan siswa baru syarat tersebut belum dipenuhi,” kata Suyamsih di kantornya, jumat kemarin.

Persyaratan dimaksud, menurut Suyamsih, antara lain jumlah guru yang menandai dan kompeten pada masing-masing bidang studi. Selain guru, pihaknya juga mensyaratkan adanya ruang kelas yang lebih baik, tidak seperti sekarang dimana ruang kelas masih harus berbagai dengan ruang guru, ruang kepala sekolah dan bahkan UKS.

Dijelaskan, sekolah ini beroperasi dengan surat izin sementara dari Dinas Pendidikan. Surat izin sementara tersebut berlaku setahun dan mestinya habis masa berlakunya tahun ini. Untuk seterusnya, bila ingin beroperasi terus, maka sekolah dimaksud harus mendapat izin baru dengan persyaratan sebagaimana telah diatur. “Kami sudah pernah menegur. Mereka berjanji memenuhi ketentuan dan persyaratan, tapi ternyata sampai sekarang belum direalisasikan,” ujarnya.

Menurut Suyamsih, pihaknya tidak bisa menolelir sekolah yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan. Sebab bila dibiarkan akan merugikan masyarakat secara umum.” Kita akan lihat. Mestinya mereka tidak nekad (menerima siswa baru, red). Kalau masih nekad juga, tentu kami akan melakukan tindakan,” katanya. Sementara, upaya wartawan untuk untuk mengkonfirmasi masalah ini ke pengelola, belum berhasil dilakukan. Pihak pengelola Nandar Winoro ST yang tercatat sebagai anggota DPRD Sleman tidak bisa dikontak. Saat mencoba menghubunginya, ponselnya ternyata tidak aktif.

Mengenai siswa yang sekarang ada, Suyamsih mengatakan bila sampai 13 Juli pihak pengelola tidak bisa mewujudkan janjinya terkait dengan persyaratan, maka pihaknya akan meminta siswa tersebut disalurkan ke sekolah lain.” Kami ingin semua berjanji sesuai aturan dan bisa memenuhi ketentuan termasuk dalam hal persyaratan. Mana mungkin kami membiarkan siswa diajar atau dididik oleh guru yang tidak berkompetensi,” katanya.

Sementara Ketua Yayasan Islam Cahaya Hati selaku pengelola SMP Ibnu Abbas Nandar Winoro ST membantah pihaknya tidak melakukan pembenahan sebagaimana yang dijanjikan. Ketika dihubungi via ponselnya, Nandar yang juga anggota DPRD Sleman mengaku 3 bulan lalu Dinas Pendidikan memang melakukan sidik dan mengunjungi sekolahnya.

Sejak dikunjungi dinas itulah, pihak yayasan terus melakukan pembenahan dengan membangun 6 ruang kelas baru dan menambah guru mengajar menjadi 12 orang.“ Semuanya sarjana. Dengan tambahan enam kelas ini, maka kelas kami menjadi 9 ruangan. Mungkin belum sempurna, tapi kami punya itikad serius untuk melakukan perbaikan sebagaimana arahan dinas,” kata Nandar.

Nandar berharap, Dinas Pendidikan segera melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan segala sesuatunya. Dengan demikian, pihak dinas akan langsung bisa melihat kondisi riil di lapangan.

“Kami memahami sebelumnya banyak kekurangan. Tapi kami berharap pihak dinas jangan mengeluarkan statemen sebelum melihat apa yang telah kami lakukan untuk memenuhi persyaratan yang disodorkan,” kata Nandar yang mengaku sejak pembenahan dilakukan, dinas memang belum meninjau lagi sekolah itu. (aro)

Sumber: BERNAS JOGJA, Sabtu, 27 Juni 2009

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *