Tarif Listrik Prabayar Lebih Mahal

YOGYA (KR) – Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) DIY menerima beberapa pengaduan dari masyarakat terkait kebijakan PLN tentang memasang listrik prabayar. Kebijkan itu menuai kontroversi, karena setelah dihitung jumlah nominal beban yang harus ditanggung pelanggan justru lebih mahal dari listrik pascabayar.

LOD mempertanyakan tidak adanya transparansi kepada pelanggan tentang struktur serta komponen pembiayaan pulsa listrik prabayar. Di samping aspek transparansi, PLN juga dikritik karena tidak memberikan opsi (pilihan) kepada pelanggan untuk menggunakan alternative system pascabayar. “PLN seolah-olah hanya mengejar target pemasangan listrik prabayar,” kata anggota LOD DIY Mukhsin Achmad kepada wartawan di kantornya, Senin (23/9).

Salah seorang pelapor, Kumara Dewi (50) menuturkan, ketika mengajukan pemasangan listrik baru tahun ini, dia sebenarnya menghendaki sistem pascabayar. Namun petugas PLN mengatakan pemasangan listrik mulai tahun 2013 harus menggunakan sistem prabayar. “Setelah memakai sistem prabayar 1-2 bulan, saya hitung-hitung ternyata jatuhnya lebih mahal disbanding memakai sistem pascabayar. Terpautnya kok banyak, mestinya harganya kan sama,” keluhnya.

Kumara mengaku kaget saat bali pulsa listrik prabayar di bulan pertanma sebesar Rp. 100.000, namun selang dua minggu listrik mati dan dia harus membeli pulsa lagi. Dia juga baru saja membeli pulsa Rp. 50.000 dan mendapat daya 73,3 kWh, padahal awal Juli lalu dengan nominal yang sama dia mendapat 74kWh. (Bro)-d

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Selasa 24 September 2013

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *