Uji Publik Ombudsman Berjalan Panas

Komisioner dan Calon Anggota Berselisih Paham

JOGJA- Tim Seleksi Ombudsman DIJ baru saja emnggelar uji publik. Sebanyak 20 orang calon anggota Ombudsman DIJ mengikuti kegiatan terebut. Mereka merupakan kandidat yang lolos seleksi administrasi, ujian tertulis dan tes psikologi.

“Dari 20 calon itu, kami kerucutkan menjadi 10 orang. Selanjutnya diambil tujuh orang yang akan diangkat gubernur sebagai anggota Ombudsman DIJ. Sianya tiga orang menjadi cadangan,” ujar Ketua Tim Seleksi Dr Achiel Suyanto SH MBA kemarin (22/11).

Jalannya seleksi berlangsung sehari sebelumnya di gedung DPRD DIJ. Achiel mengundang sejumlah elemen masyarakat. Tak hanya dari kalangan LSM. Uji publik juga menghadirkan Komisioner KPID dan KIP DIJ serta anggota Ombumdsman DIJ periode 2015-2018.

Juga dari kalangan birokrat di lingkungan Pemprov DIJ, anggota DPRD DIJ dan swasta. Mereka dipersilakan mengajukan pertanyaan usai 20 orang calon anggota Ombudsman DIJ menyampaikan gagasan.

Suasana tanya jawab semula datar. Namun berubah setelah salah satu calon, Abdullah Abidin bicara. Dia mengkritisi Ombudsman DIJ yang belum banyak dikenal masyarakat. “Perlu disosialisasikan agar publik menjadi dekat”, ucap Abdullah.

Pernyataan itu mengundang reaksi komisioner Ombudsman DIJ Mohammad Saleh Tjan. Pria yang menjabat wakil ketua bidang urusan aparattur pemerintah daerah itu balas menyerang.

Dia menyebut dari 20 orang calon itu rupanya tak semuanya paham dan mengerti tugas serta fungsi Ombudsman DIJ. Tjan meragukan para kandidat komisioner itu pernah datang ke kantor Ombudsman DIJ.

Terbukti, apa yang dipaparkan di uji publik sesungguhnya telah dikerjakan lembaga publik bentukan Gubernur DIJ tersebut. “Semua sudah dilakukan. Tidak ada yang baru. Dari sekian calon ini, saya lihat yang bernah datang ke kantor hanya seorang,” sesalnya.

Tjan membantah tudingan lembaganya kurang dikenal. Dia mengklaim sepanjang Januari-November ini ada banyak aduan masyarakat. “ada sebanyak 289 pengaduan masyarakat,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, Tjan juga menyangsikan keseriusan calon anggota Ombudsman DIJ bekerja penuh waktu. Alias tidak dobel di tempat lain. Dia mengkhawatirkan kutu loncat yang menjadi peserta seleksi.

Alasannya, ada di antara 20 orang calon itu, ada yang pernah mengikuti ujian calon anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). “Saya minta klarifikasi ini,” katanya dengan nada tinggi.

Belum lagi Tjan selesai, Abdullah langsung angkat bicara. Dia tak terima dengan tudingan Tjan. “Apa dasarnya Saudara menghawatirkan komitmen kami?” tanyanya sengit. Keduanya terlibat perselisihan pendapat.
Sebelum bertambah panas, Achiel sebagai pemimpin rapat menyela. Dia mengingatkan Abdullah, “Beri kesempatan bicara. Nanti saudara ada waktunya,” tegasnya.

Di sisi lain, kekhawatiran Tjan ditepis calon komisioner Suryawan Raharjo,. Dosen Fakultas Hukum Universitas Janabadra itu menegaskan siap bekerja penuh waktu. “Jika terpilih, saya akan mengajukan cuti,” janjinya.

Selain diwarnai perselisihan pendapat, beberapa anggota Ombudsman DIJ meyampaikan beragam gagasan. Salah satunya seperti disampaikan Fuad SH MH Mkn. Dia bertekad menjalankan fungsi pengawasan ketat. “Jika perlu menjatuhkan hukuman kepada lembaga-lembaga swasta yang bertindak nakal,” katanya.

Isu lain yang diangkat menyangkut perizinan perumahan, perempuan dan anak hingga pemanfaatan tanah Sultan Ground (SG). Isu terkait perlindungan anak dan perempuan dikupas oleh Suki Ratnasari. Mantan Komisioner KPID DIJ dua periode itu termasuk diantara lima perempuan yang lolos hingga tahap uji publik. (kus/iwa/er)

Sumber: Jawa POS (Radar Jogja), Kamis 23 November 2017 Halaman 2

Leave a Reply