Yogyakarta Darurat Sampah, Ini 5 Rekomendasi Ombudsman

Penutupan TPST Piyungan berdampak pada menumpuknya sampah di berbagai wilayah di Yogyakarta. (Foto : Istimewa)

Syahroni | 28 Mar 2019

Penutupan TPST Piyungan berdampak pada menumpuknya sampah di berbagai wilayah di Yogyakarta. (Foto : Istimewa)

Trubus.id — Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan berdampak cukup signifikan terhadap kebersihan di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Karena penutupan TPST Piyungan, kebersihan di 3 lokasi yang biasa membuang sampahnya di TPST Piyungan itu jadi berantakan.

Sudah 3 hari belakangan, gunungan sampah terlihat di berbagai sudut wilayah. Tak hanya merusak pemandangan, gunungan sampah rumah tangga itu juga berpotensi menimbulkan penyakit.

Menanggapi kondisi ini, Lembaga Ombudsman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut permasalahan sampah di 3 wilayah tersebut sudah sangat genting. Untuk itu Pemerintah Daerah (Pemda) DIY diminta untuk segera mengatasinya.

Dalam konferensi pers di Kantor Ombudsman DIY, Kamis (28/3), Komisioner Ombudsman DIY, Fajar Wahyu Kurniawan mengatakan, luas area TPST Piyungan mencapai 12,5 hektare. Kawasan ini diperkirakan dapat menampung 2,4 juta meter kubik sampah.

“Beberapa informasi yang kami terima, diperkirakan sudah overload sampai 2020. Kalau sekarang 2019, seharusnya sudah ada contingency plan. Ini sudah kondisi yang genting dan penting plus darurat,” kata Fajar di kantornya, Kamis (28/3).

Fajar mengatakan, rata-rata sampah yang ditampung dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul setiap harinya mencapai 400 hingga 600 ton per hari. Berdasarkan rencana awal, pengelolaan sampah di TPST Piyungan seharusnya dilakukan dengan sistem sanitary landfill. Artinya, sampah dibuang di lokasi cekung, dipadatkan, kemudian ditimbun dengan tanah.

Namun yang terjadi selama ini, pengelolaan sampah dilakukan dengan sistem open dumping. Sampah hanya ditumpuk begitu saja tanpa ada pengolahan. Hal ini terjadi sejak TPST Piyungan pertama dioperasikan pada 1995.

Fajar menceritakan, laporan tentang masalah sampah di DIY sendiri telah muncul sejak 2018. Selain sampah yang menumpuk, ada pula laporan tentang tempat-tempat pembuangan sampah liar. Namun, hal ini tidak diatasi dengan serius, sehingga mencapai puncak pada beberapa hari terakhir.

“Ada lima poin terkait usulan ke depan. Rekomendasi ini dibuat berdasarkan gelar kasus yang dilakukan pada 12 September 2018,” kata Fajar.

Adapun kelima rekomendasi LO DIY yaitu:

  1. Mengolah sampah menjadi energi, yaitu dengan membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Hal ini paling direkomendasikan.
  2. Mengelola sampah dengan mesin hidrotermal, yaitu sampah dimana pada reaktor dengan suhu bertekanan tinggi sehingga akan menjadi hancur yang kemudian caranya bisa digunakan pupuk dan sisa sampah bisa jadi bahan bakar.
  3. Melakukan pembriketan sampah dan biomasa yang berasal dari limbah hewan dan tumbuhan.
  4. Melakukan pengelolaan sampah denagn cara pirolisis sampah ban, untuk bahan bakar minyak alternatif bagi industri kecil dan menengah.
  5. Melakukan pengelolaan sampah dengan pirolisis sampah plastik dan mendaur ulang kembali karena sulit terurai. selain didaur ulang menjadi produk sampah kembali, bisa juga untuk bahan bakar.

[RN]

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *